KORANINFOKINI.COM, LEMBATA — Setelah menyerahkan bantuan kepada masyarakat di Kantor Desa Aramengi, Bupati Lembata, P. Kanisius Tuaq, S.P., bersama rombongan melanjutkan kunjungan kerja ke Bukit Batu, untuk melaksanakan panen jagung, penimbangan hasil, serta pembelian perdana langsung di lokasi panen.
Kegiatan ini menjadi momentum penting sebagai pembelian perdana jagung langsung di lokasi panen oleh pemerintah daerah, sekaligus wujud dukungan nyata terhadap petani lokal dalam memperkuat sektor pertanian.
Dalam sambutannya, Ketua Kelompok Tani Bukit Batu menyampaikan laporan singkat mengenai kondisi kelompok tani yang dipimpinnya. Ia menjelaskan bahwa Kelompok Tani Bukit Batu didirikan pada tahun 2019 dan saat ini beranggotakan 24 orang petani. Kelompok ini mengelola lahan seluas 5,7 hektar dengan komoditas utama jagung hibrida varietas Nusantara.
Ke depan, kelompok tani tersebut merencanakan pengembangan luas lahan menjadi 10 hektar sebagai langkah strategis untuk meningkatkan kapasitas produksi dan kesejahteraan anggota. Sehubungan dengan rencana tersebut, pihaknya berharap adanya dukungan dari Pemerintah Kabupaten Lembata, khususnya dalam bentuk bantuan sarana dan prasarana pertanian.
Sementara itu, Bupati Lembata dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada para penyuluh pertanian yang telah mendampingi petani di wilayah Bukit Batu. Ia menegaskan bahwa kepemimpinan yang berlatar belakang pertanian harus hadir langsung di tengah masyarakat, tidak hanya bersifat seremonial, tetapi turut bekerja bersama petani di lapangan.
“Pemimpin harus hadir dan bekerja bersama petani. Pertanian tidak bisa hanya dibicarakan, tetapi harus dikerjakan secara nyata di lapangan,” tegasnya.
Berdasarkan hasil panen sementara, produksi jagung mencapai sekitar 1,49 ton dengan harga jual Rp3.250 per kilogram pada kadar air di atas 19 persen, sehingga menghasilkan pendapatan sebesar Rp3.409.250. Masih terdapat sekitar 4 ton jagung yang belum dipanen, dengan estimasi total pendapatan keseluruhan mencapai lebih dari Rp15 juta dari luas lahan 0,6 hektar.
Meski demikian, Bupati menilai bahwa produktivitas lahan masih tergolong rendah dan perlu ditingkatkan. Ia mencatat sejumlah permasalahan teknis yang memengaruhi hasil produksi, antara lain keterlambatan waktu tanam yang dilakukan pada akhir Desember, kondisi pH tanah yang kemungkinan belum ideal, serta pemupukan yang belum optimal baik dari sisi dosis maupun waktu pemberian.
Selain itu, perawatan tanaman dinilai belum maksimal, ditandai dengan tingginya pertumbuhan gulma serta keterlambatan penyiangan yang berdampak pada pertumbuhan tanaman jagung yang tidak optimal.
Bupati juga menekankan pentingnya faktor-faktor kunci dalam peningkatan produksi, seperti ketepatan waktu tanam, kesesuaian dosis dan waktu pemupukan, kondisi kesuburan tanah, serta pengendalian gulma secara efektif.
Dalam kesempatan tersebut, peran penyuluh pertanian turut menjadi sorotan. Bupati meminta agar penyuluh lebih aktif dalam memberikan pendampingan dan bimbingan teknis kepada petani, termasuk dalam penerapan teknologi pertanian yang lebih baik pada musim tanam berikutnya.
Kegiatan ini juga turut hadir Pimpinan Cabang Bank NTT. Dalam rangka mendukung permodalan usaha masyarakat, Pemerintah Daerah menjalin kerja sama dengan Bank NTT melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang menawarkan suku bunga rendah.
Sebagai langkah ke depan, pemerintah daerah mendorong peningkatan produksi agar kelompok tani dapat memenuhi syarat untuk memperoleh bantuan alat dan mesin pertanian, seperti mesin perontok jagung. Selain itu, peningkatan Indeks Pertanaman (IP) juga menjadi fokus guna mendorong intensitas dan produktivitas lahan pertanian.
Kegiatan ini diharapkan mampu memotivasi para petani untuk terus meningkatkan kinerja dan semangat dalam mengembangkan sektor pertanian, sebagai salah satu pilar utama pembangunan ekonomi daerah di Kabupaten Lembata. (ProkompimPemKabLembata)


Komentar