GESER UNTUK LANJUT MEMBACA
Berita
Beranda » Berita » Plan Indonesia Hadirkan Air di Desa Lamawolo, Masyarakat Mengaku Bisa Menanam Sayur di Pekarangan Rumah

Plan Indonesia Hadirkan Air di Desa Lamawolo, Masyarakat Mengaku Bisa Menanam Sayur di Pekarangan Rumah

KORANINFOKINI.COM, LEMBATA – Yayasan Plan Indonesia berhasilkan menghadirkan air di desa Lamawolo tepatnya di lokasi relokasi daerah Tanah Merah kecamatan Ile Ape.

Mama Roslin Kidi (40) warga Lamawolo saat ditemui pada Sabtu 8 November 2025 menjelaskan kondisi air sebelum kehadiran Plan Indonesia.

“Sebelum ada Plan Indonesia, air di sini keluarnya sangat kecil, kadang keluar dan kadang tidak, dan kalau saat dia rusak itu lama baru baik. Baru-baru ini rusak sampai 2 bulan sehingga air mandi, makan minum juga kami pakai beli,” jelas mama Roslin.

Untuk 1 tangki air PDAM, lanjutnya,  seharga 75 ribu.

“Itupun kalau kami hemat, kami bisa pakai sampai 3 minggu. Itu sudah sangat hemat, kalau pakai boros 1 minggu sudah habis terpakai,” ucapnya.

Peringati Hari Kartini, Wabup Lembata : Peran Perempuan Sangat Dahsyat, Berikan Ruang kepada Mereka dalam Mengambil Keputusan

“Dengan kehadiran air dari Plan saat ini, uang untuk belanja air yang kemarin kami bisa menggunakannya untuk kebutuhan lain,” sambung dia.

Mama Roslin mengaku, masyarakat desa Lamawolo saat ini sudah dapat menggunakan air untuk menanam sayur di pekarangan rumah.

“Sekarang kami juga menanam di pekarangan rumah kami seperti sayur-sayuran, tomat, serai, kunyit dan kencur. Yang kami tanam ini juga untuk makan, tidak dijual. Semua ini berkat bantuan Plan Indonesua,” bebernya.

Menanggapi pengakuan masyarakat, manager Program Implementation Area Lembata Plan Indonesia Erlina Dangu menegaskan bahwa Plan Indonesia melihat air bersih itu sebagai hak dasar manusia.

Dijelaskan None sapaan akrabnya, ada beberapa intevensi yang plan lakukan terkait dengan air bersih.

Polda NTT Amankan Dua Terduga Pelaku Penipuan Berkedok Calo Tiket Kapal Pelni yang Beraksi di Wilayah Kota Kupang

Pertama, jelasnya, Plan membangun infrastruktur air bersih baik itu pada sumur gali, sumur bor dan bak penampung air hujan.

“Kita juga membangun jaringan perpipaan baik yang sistemnya gravitasi maupun sistem teknologi lewat memompa air ke atas dan dibagi dalam jaringan. Selain airnya kita bangun, kita juga memperkuat sistem pengelolaan air yang ada di desa. Sistem pengelolaan air yang dimaksud ini adalah badan pengelola air minum di level desa, yang mereka itu kita latih secara teknis untuk bagaimana kalau ada jaringan perpipaan mereka bisa mengetahui kerusakaannya seperti apa dan perbaikan ringannya seperti apa dan mereka juga dilatih management kelompoknya karena ada desa yang badan pengelolaan air minumnya sudah mulai memberikan biaya atau iuran dari air bersih yang sudah kita fasilitasi dan kerja sama dengan pemerintah desa dan setiap bulannya sudah ada sistem membayar iuran. Itu dikelola oleh badan air minumnya yang saat ini dikelola oleh Bumdes,” beber Erlina.

“Tetapi kalau kita mau lihat secara lebih luas, air bersih inikan tidak hanya menjawab orang untuk makan minum dan MCK. Tetapi kita lihat air bersih dalam konteks perlindungan anak, maka intervensi air yang kita lakukan itu ada hubungan langsung dengan stunting karena stunting ada sensitif dan spesifik. Kalau sensitif berhubungan dengan gizi, imunisasi dan obat-obatan. Tetapi kalau spesifik lebih kepada air. Jadi itu ada hubungannya dengan stunting,” sambung Erlina Dangu.

Kedua, Air bersih hubungan dengan Perlindungan Anak dalam Konteks Kekerasan

Ditegaskannya, ketika sumber air jauh dari rumah akan berpotensi terjadi kekerasan terhadap anak pada saat pengambilan air.

Polda NTT Musnahkan 6.381 Liter Minuman Beralkohol Ilegal

“Contoh di desa Leuwayan yang dulunya air berada di bawah. Jadi anak harus turun dulu ambil air di bawah baru naik. Dan dalam proses perjalanan dengan jaraknya cukup jauh, anak berpotensi mengalami kekerasan dan itu mungkin saja terjadi apalagi sumber airnya cukup jauh,” kata Erlina.

Ketiga, Waktu Anak Belajar dan Bermain akan Berkurang karena lebih fokus mengambil air.

Terkait dengan waktu anak belajar dan bermain akan berkurang, jelas Erlina karena anak lebih fokus mengambil air.

“Kita punya standar. Kalau di Plan mengukur jarak tempuh untuk ambil air kalau sudah di atas 30 menit untuk pergi dan pulang itu sudah sebagai yang paling rentan. Paling rentan untuk durasi pengambilan. Jadi terkait dengan perlindungan anak maka dengan intervensi air, kita mengurangi resiko kekerasan,” ucapnya.

“Kita mengurangi waktu anak untuk bekerja, tetapi akan meningkatkan waktu dia untuk bermain dan belajar,” sambungnya.

Keempat, Air Memberikan dampak positif untuk ekonomi

Dijelaskan Erlina, dengan intervensi air, akan memberikan dampak positif terutama untuk ekonominya.

“Di desa Tagawiti daerah Tanjung Ile Ape, rata-rata uang yang dikeluarkan untuk membeli air itu sekitar 200-300 ribu per bulan. Tetapi kalau sekarang dengan intervensi kita, mereka cukup bayar iuran mungkin sekitar 5000. Jadi uang itu bisa dihemat untuk pendidikan anak dan kebutuhan lain dalam rumah untuk peningkatan gizi anak terutama anak-anak yang mengalami stunting atau gizi kurang lainnya,” tutupnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *