GESER UNTUK LANJUT MEMBACA
Berita
Beranda » Berita » Anggota Formalen Broin Tolok Beri Perbandingan Gaji dan Tunjangan DPRD Lembata dengan DPRD Flotim, Hery Tanatawa Bilang Begini

Anggota Formalen Broin Tolok Beri Perbandingan Gaji dan Tunjangan DPRD Lembata dengan DPRD Flotim, Hery Tanatawa Bilang Begini

KORANINFOKINI.COM, LEMBATA – Anggota Forum Parlemen Jalanan Lomlen, Broin Tolok angkat bicara terkait tunjangan DPRD di kabupaten Lembata NTT.

Broin Tolok memberikan perbandingan tunjangan ADPRD kabupaten Flores Timur dan ADPRD kabupaten Lembata.

Dijelaskan Broin, Anggota DPRD di kabupaten Flores Timur menerima gaji dan tujangan setiap bulan sebesar Rp. 22.951.155.

“Jumlah ini merupakan akumulasi bersih setelah dikurangi dengan potongan wajib seperti pajak penghasilan (PPh),” jelas Broin Minggu 14 September 2025.

Sementara lanjutnya, penghasilan bersih dari gaji dan tunjangan anggota DPRD kabupaten Lembata, setelah dikurangi dengan potongan wajib, sebesar Rp.32.817.533 setiap bulan.

Layanan 110 Polres Kupang Responsif, Seluruh Panggilan yang Masuk Berhasil Direspons dengan Baik

“Selain anggota, gaji dan tunjangan pimpinan DPRD Flores Timur setelah dikurangi potongan wajib, sebesar Rp. 18.505.420 setiap bulan. Jumlah ini di luar tunjangan Forkopimda untuk pimpinan. Tunjangan Forkopimda di kabupaten Flores Timur sebesar Rp. 2.500.000,” terang Broin Tolok.

Sedangkan katanya, gaji dan tunjangan pimpinan DPRD Lembata berada di kisaran 43 juta rupiah per bulan.

“Meski tidak memperoleh tunjangan perumahan dan transportasi karena mendapatkan mobil dinas dan rumah jabatan, penghasilan pimpinan DPRD Lembata cukup mentereng karena diberi tunjangan makan minum sebesar 30 juta rupiah per bulan atau 1 juta rupiah per hari. Jumlah tersebut belum termasuk tunjangan Forkopimda untuk ketua DPRD,” ucapnya.

Dengan demikian, papar Broin, selisih penghasilan anggota DPRD Flores Timur dengan anggota DPRD Lembata di kisaran 9,6 juta atau hampir mencapai 10 juta rupiah. “Gaji dan tunjangan anggota DPRD Lembata jauh lebih serius,” tegasnya.

Di tingkat pimpinan DPRD, Broin mengatakan, selisih penghasilan pimpinan DPRD Flores Timur dengan pimpinan DPRD Lembata di kisaran 24 juta rupiah.

Layanan Call Center 110 Polres Manggarai Terus Menunjukkan Kesiapsiagaan dalam Memberikan Pelayanan kepada Masyarakat

“Penghasilan pimpinan DPRD Lembata jauh lebih mentereng, bahkan lebih besar selisih penghasilan pimpinan DPRD Lembata dari yang diterima pimpinan DPRD Flores Timur,” tegasnya.

Menurut Broin, data yang dirilis ini cukup valid karena diperoleh dari slip gaji dan Dokumen Pelaksanaan Anggaran atau DPA.

Kata Broin, selisih penghasilan yang nilainya hampir 10 juta rupiah antara anggota DPRD Flores Timur dengan Anggota DPRD Lembata ini letaknya pada besaran tunjangan transportasi dan perumahan.

“DPRD Flores Timur itu tunjangan tranportasinya hanya 9 juta rupiah per bulan, itu sudah include PPh, sementara tunjangan perumahannya hanya 6 juta rupiah per bulan juga sudah termasuk PPh”, ungkap Broin.

Bahkan beber Broin, selisih harga sewa mobil jenis mini bus dan sewah rumah di kabupaten Flores Timur dengan kabupaten Lembata sangat tipis.

Gubernur Melki Laka Lena Buka Turnamen Smater Ndao Cup IV

Broin mengungkapkan, gaji dan tunjangan untuk anggota dan pimpinan DPRD hanya bersumber dari PAD. Sementara PAD kabupaten Lembata jauh lebih kecil dari kabupaten Flores Timur.

“Kabupaten Lembata memiliki beban hutang, sedangkan kabupaten Flores Timur tidak memiliki hutang daerah,” tandas Broin.

Broin mendesak Bupati Lembata untuk segera menerbitkan Perbub baru agar hak keuangan dan administratif pimpinan dan anggota DPRD harus obyektif dan sesuai dengan asas yang tertera dalam Peraturan Pemerintah Nomor 1 tahun 2023.

Koordinator umum FORMALEN, Heri Tanatawa menjelaskan, pihaknya telah dijanjikan oleh Bupati Lembata dalam forum dialog tanggal 8 September lalu, akan diundang untuk memberikan masukan terkait tuntutan pemangkasan tunjangan transportasi dan perumahan DPRD Lembata.

Namun menurutnya, hingga Minggu 14 September 2025 pihaknya belum menerima undangan dari pemerintah kabupaten Lembata.

“Setelah kami dijanjikan oleh Bupati dan pak Sekda, ada informasi lagi bahwa pihak-pihak tertentu tidak menginginkan kehadiran kami dalam pembahasan soal tunjangan ini, jadi kita lihat saja. Yang pasti, kami akan terus melakukan aksi dan setiap jilid akan kami tingkatkan tensinya”, tutup Hery.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *