KORANINFOKINI.COM, KALABAHI – Kepolisian Resor Alor Polda NTT memberikan evaluasi terkait aksi tawuran dan tindak kekerasan yang mengakibatkan kekacauan di Kota Kalabahi Kec. Teluk Mutiara Kab. Alor yang melibatkan anak-anak dibawah umur.
Untuk diketahui, sejak pertengahan September 2025, sejumlah kasus kekerasan tercatat terjadi mulai dari tawuran, pengeroyokan, hingga provokasi di media sosial sampai puluhan remaja harus diamankan dan sebagian besar masih berstatus anak di bawah umur.
Kapolres Alor, AKBP Nur Azhari, S.H. menyebut bahwa awal mula persoalan dipicu oleh percakapan di aplikasi WhatsApp antara dua remaja laki-laki usia 14 tahun inisial IIAS warga Kelurahan Wetabua dengan remaja perempuan inisial DL warga Kampung Cinna, Kelurahan Kalabahi Kota.
“Perselisihan yang berawal dari percakapan pribadi itu berkembang menjadi kesalahpahaman antar kelompok remaja hingga akhirnya berujung pada tawuran antara kelompok Kampung Wetabua dan Kampung Pantar,” jelas kapolres Azhari.
Dijelaskan, situasi semakin memanas ketika seorang remaja laki-laki usia 17 tahun inisial DM asal Kelurahan Welai Barat, menjadi korban pengeroyokan oleh remaja dari Kelurahan Wetabua.
“Peristiwa ini menambah ketegangan di kalangan remaja setempat dan memperluas potensi konflik,” ucapnya.
Puncaknya, kata kapolres Azhari, terjadi pada tanggal 17 September 2025.
“Saat itu Polres Alor menggelar operasi pengamanan dan berhasil mengamankan sebanyak 19 remaja yang terlibat langsung dalam aksi tawuran. Dari jumlah tersebut secara umum adalah berstatus anak di bawah umur. Mereka berasal dari berbagai kelurahan dan desa di Teluk Mutiara, antara lain Batutenata, Habeleng, Lanbo, Moepali, Kadelang, serta Kelurahan Welai Barat. Para remaja ini diamankan ketika terlibat aksi saling serang maupun saat kedapatan membawa benda berbahaya,” tegas orang nomor satu di Res Alor ini.
“Tidak berhenti di situ, beberapa hari setelahnya, dua anak di bawah umur kembali diamankan lantaran membawa senjata tajam berupa panah ambon. Keduanya ditangkap saat mencoba memprovokasi remaja lain agar melanjutkan tawuran pasca-insiden pada 17 September. Keduanya berasal dari Desa Lendola dan masih berusia 15 dan 17 tahun, terhadap kasus tersebut dilanjunkan ke proses penyidikan yang nantinya akan dilimpahkan ke Jaksa untuk disidangkan ke Pengadilan,” sambung kapolres Azhari.
Selain aksi di lapangan, lanjut kapolres, gesekan antarwarga muda juga merembet ke media sosial.
“Pada 23 September 2025, seorang remaja berusia 16 tahun asal Kelurahan Wetabua diamankan setelah diketahui menyebarkan provokasi melalui akun Facebook. Konten yang diunggahnya dinilai berpotensi mengobarkan kembali semangat tawuran antar kelompok remaja dan terhadap unggahan tersebut dikenakan UUTE dimana kasus tetap dilanjutkan proses penyidikan,” paparnya.
Ia menegaskan bahwa seluruh rangkaian peristiwa ini menjadi perhatian serius kepolisian.
“Kami sudah mengamankan para remaja yang terlibat, dan khusus bagi anak-anak di bawah umur, penanganan dilakukan dengan pendekatan edukatif melalui koordinasi bersama orang tua, sekolah, dan tokoh masyarakat,” bebernya.
Polres Alor, ungkapnya, tidak hanya fokus pada penindakan, tetapi juga melakukan langkah preventif dengan meningkatkan patroli di titik-titik rawan tawuran, serta menggencarkan penyuluhan keamanan dan ketertiban masyarakat di sekolah-sekolah.
“Polisi juga melibatkan tokoh agama, tokoh adat, dan organisasi pemuda untuk memberikan pembinaan terhadap generasi muda agar tidak mudah terprovokasi,” tandasnya.
Dalam beberapa kali kegiatan Jumat Curhat dan Minggu Kasih, kapolres Alor juga menekankan pentingnya peran orang tua dalam mengawasi pergaulan anak.
“Banyak kasus ini dipicu oleh hal-hal sepele, namun berujung pada perkelahian besar. Orang tua harus lebih memperhatikan aktivitas anak-anak, terutama penggunaan media sosial dan gawai. Kita juga mengimbau kepada seluruh masyarakat agar turut berperan dalam menjaga keamanan dengan segera melaporkan bila menemukan tanda-tanda provokasi atau potensi tawuran. Aparat berharap, dengan sinergi antara kepolisian dan masyarakat, situasi kamtibmas di Kabupaten Alor dapat kembali kondusif,” harapnya.
“Kami tidak ingin masa depan mereka hancur hanya karena terlibat tawuran. Penegakan hukum tetap dilakukan, tetapi pembinaan juga menjadi prioritas agar anak-anak ini bisa kembali fokus pada pendidikan dan masa depan mereka,” tutup
Kapolres kapolres Alor Polda NTT.


Komentar