KORANINFOKINI.COM, LEMBATA – Pemerintah Kabupaten Lembata bersama Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) menggelar Seminar Sehari Sosialisasi dan Pembekalan FKUB Kecamatan Tingkat Kabupaten Lembata.
Kegiatan yang mengangkat tema “Peran serta masyarakat dalam menjaga dan meningkatkan kualitas toleransi dan kerukunan antar umat beragama menuju stabilitas kamtibmas yang berkelanjutan” ini dihadiri Bupati Lembata P. Kanisius Tuaq, didampingi Ketua DPRD Kabupaten Lembata, kapolres Lembata, unsur Forkompinda, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Lembata, pimpinan OPD, serta pengurus Pokja FKUB Kecamatan se-Kabupaten Lembata.
Dalam sambutannya, Ketua FKUB Kabupaten Lembata, Yakobus Kia, S.Ag, menegaskan pentingnya belajar dari sejarah sebagai pedoman kehidupan. Ia mengutip pepatah bijak “Historia Magistra Vitae” yang berarti sejarah adalah guru kehidupan.
“Sejarah memberikan banyak pelajaran berharga agar manusia tidak mengulangi kesalahan yang sama, sekaligus menjadikannya pedoman untuk melangkah lebih baik ke depan,” ungkapnya.
Yakobus juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk berani pergi lebih jauh, tinggal lebih lama, dan rela berkorban demi orang lain. Menurutnya, nilai-nilai pengabdian inilah yang menjadi fondasi kebersamaan dan kerukunan di Lembata.
Sementara itu, Bupati Lembata P. Kanisius Tuaq saat membuka seminar menegaskan bahwa FKUB memiliki peran yang sangat penting sebagai wadah membangun serta menjaga toleransi antarumat beragama.
Bupati juga menyoroti beberapa isu sosial yang memerlukan perhatian bersama, seperti pembatasan jam pesta untuk menjaga ketertiban umum, penanggulangan HIV/AIDS, serta penguatan ekonomi masyarakat.
“FKUB bukan hanya wadah dialog antarumat beragama, tetapi juga harus berperan aktif dalam mendorong terciptanya masyarakat yang sehat, tertib, rukun, dan sejahtera,” tegas Bupati.
Dalam kesempatan itu, Bupati Kanisius juga menekankan pentingnya menjunjung tinggi hak beragama sebagai hak asasi manusia yang wajib dilindungi, sepanjang tidak menodai maupun menyalahgunakan ajaran agama lain.
Ia mengangkat filosofi lokal “Taan Tou” sebagai roh persatuan yang menyatukan seluruh anak Lembata. Semangat ini, menurutnya, harus terus dijaga untuk memperkuat kebersamaan, mencegah konflik, serta menciptakan dialog harmonis lintas iman.
“Perbedaan keyakinan tidak boleh memisahkan kita, melainkan harus menjadi kekuatan untuk bersama-sama melangkah maju demi kemajuan Lembata,” tandasnya.
Melalui seminar sehari ini, pemerintah bersama FKUB berharap terbangun sinergi antara tokoh agama, tokoh masyarakat, generasi muda, dan seluruh elemen daerah. Tujuannya adalah menjaga keutuhan, memperkuat kedamaian, serta memastikan stabilitas sosial dan keamanan di Kabupaten Lembata yang berkelanjutan.


Komentar