KORANINFOKINI.COM, LEMBATA – Nia anak muda dari desa Riangbao kecamatan Ile Ape sekaligus komite Muro desa Riangbao mengungkapkan hasil monitoring pantai saat Workshop Hasil Monitoring Pantai Project oleh Kaum Muda, bertempat di Ballrom olimpik, Jumat 17 Juli 2026.
Sebelumnya, Nia menjelaskan Plan mempercayakan anak muda terjun ke lapangan melakukan monitoring.
Dijelaskan Nia, ia bersama beberapa teman yang tergabung di komunitas komite Muro yang dibentuk Plan.
“Sehingga kami diberikan pelatihan monitoring. Dalam pelatihan itu, kami diberikan kepercayaan memilih sendiri metodenya seperti apa, lalu diberikan kepercayaan dengan topik yang kami gunakan untuk kami turun ke desa, dan desa yang ditentukan itu bukan desa kami punya sendiri, tetapi kami ditempatkan di desa lainnya,” jelas Nia.
Di lapangan, lanjutnya, komunitas muro bertemu pemerintah desa dan ketua komite dan mengumpulkan masyarakat yang terdiri dari tokoh perempuan, kaum muda, tokoh adat, tokoh masyarakat, BPD dan pemdes itu sendiri.
“Di dalam monitoring itu, kami menyampaikan tujuan monitoring, informasi yang ingin kami dapatkan dari monitoring ini, lalu disitu kami memberikan metode, kami menjelaskan sedikit metode sehingga kami tidak langsung wawancara. Namun dari metode itu, kami ingin bahwa masyarakat itu bisa langsung berdiskusi dengan kami,” beber Nia.
Hasil Monitoring
Nia menjelaskan, ia melaksanakan monitoring di desa Dulitukan dengan menggunakan metode time line.
“Saya punya metode itu time line, garis waktu. Jadi informasi yang harus saya dapat itu adalah bagaimana kondisi desa, wilayah pesisirnya sebelum dan sesudah project ini masuk. Dari hasil monitoring kami, dijelaskan bahwa, di desa Dulitukan itu sebelumnya, anak muda maupun masyarakat lokal secara umum belum pernah melakukan aksi bersih pantai maupun tanam magrove. Jadi adapun penanaman magrove itu hanya dilakukan oleh orang-orang tertentu yang menjadikan itu sebagai ladang usaha,” ucapnya.
Tentunya juga, lanjut Nia, belum ada wilayah konservasi dan belum ada kebijakan yang mengingkat di masyarakat desa untuk tidak melakukan hal-hal yang merusak ekosistem atau lingkungan pesisir.
“Kemudian muncul project pantai yang digagas Plan dan YBS sangat membantu masyarakat. Yang pertama mereka sosialisasi dulu projectnya seperti apa, lalu mendapat kesepakatan dari masyarakat desa dan pemdes sehingga terbentuklah komite Muro ini. Setelah terbentuk, mereka melakukan pemetaan zonani. Dari pemetaan Zonasi ini mereka juga melakukan aksi pembersihan pantai dan juga penanaman magrove. Lalu ada aksi stik ikan, hasil pembelian ikan dari nelayan lokal, terus ada budidaya rumput laut dan tambak garam, ini semua dibantu oleh yayasan Plan dan YBS untuk melakukan pelatihan,” terang Nia.
Dengan adanya kegiatan ini, katanya, adanya zona konsevasi di laut.
“Sehingga kegiatan-kegiatan yang dilakukan di garis umum desa yaitu lokasi pantai itu sudah dibatasi lokasinya. Jadi ada lokasi-lokasi tertentu yang ditutup untuk menjadi tempat conservasi. Lalu ada juga dibantu oleh kaum muda pemdes, sosialisasi dari pemerintah itu pembentukan kebijakan tentang perlindungan konservasi. Setelah itu muncullah perdes dan dibantu juga dari YBS, kita ada pembinaan kelompok dari komite muro itu menjadi masyarakat pengawas,” tandasnya.
Nikolaus perwakilan dari desa Petuntawa sekaligus hadir sebagai tokoh masyarakat.
Ia mengaku, dengan adanya Plan dan YBS maka area konservasi yang ada di Ile Ape khususnya Muro sangat membantu menyelamatkan ekosistem laut.
“Sangat berdampak positif, magrove bisa menjadi pewarna bagi ibu-ibu penenun dan boleh menghasilkan tenun adat, mangrove juga terpelihara dan membantu masyarakat, keberadaannya membantu ikan, kepiting dan bisa terpelihara dengan baik.
Dengan adanya konservasi, ucapnya, mudah-mudahan Plan dan YBS tetap mempertahankan karena sistem yang dilakujan Plan dan YBS sangat membantu masyarakat.
Kepala desa Kolipadan, mewakili pemdes patut mengapresiasi karena bisa menghadirkan program ini.
“Hari ini pantas dan layak sebagi pemerintah, kami menyampaikan apresiasi,” imbuhnya.




Komentar